-
Kaleidoskop 2015
Tidak ada yang lebih berharga ketimbang waktu. Ia menjadi indikator segala hal. Menelusup ke setiap celah yang tak bisa dijangkau, menjadi berarti bagi mereka yang peduli, menjadi ancaman bagi mereka yang acuh. Celakanya, seringnya saya bermimpi tidak sesering saya menghargai waktu. Selama tepat 365 hari telah berlalu. Ada banyak hal yang sering luput untuk direnungkan. Dan selalu ada hal kecil yang menarik untuk dijadikan pelajaran. Namun lagi-lagi, manusia tempatnya lupa. Akan ada saja hal-hal yang terlupa dinikmati dan disyukuri. Berikut adalah kaleidoskop singkat tahun 2015. Memori yang tidak akan terlupa sampai kapanpun. Memori tentang saya, jatuh, bangun, perjuangan, kegagalan, kegembiraan dan kesedihannya. Jakarta Sebuah perjalanan panjang namun ditempuh dalam waktu…
-
Ngomongin Visi, Target dan Keluh Kesah Mahasiswa
Setiap manusia gue rasa udah punya jalan hidup beserta target masing-masing dalam hidupnya. Entah mereka yang berasal dari anak konglomerat yang sangat menginginkan jadi artis dan liburan keliling dunia, atau bahkan hanya anak seorang nelayan yang begitu mengharapkan ayahnya mendapatkan setidaknya seekor ikan sebagai lauk keluarganya makan di hari itu. Namanya sama, hanya saja porsinya berbeda, kebutuhannya berbeda. Jika memang begitu, benar bahwa manusia itu nafsunya amat tidak terbatas. Akan selalu ada masa dimana manusia menginginkan hal-hal yang aneh, ajaib, dan super konyol yang pengen diraih. Ga munafik karena sejak dulu gue memang selalu mengartikan hidup ini sebagai sebuah pemberian. Bahwa tugas manusia disini bukan hanya sebatas makan, tidur, dan…
-
Suka Duka Jadi Mahasiswa Arsitektur
Tidak terasa perkuliahan semester genap sudah berakhir satu bulan yang lalu. Ini berarti sudah hampir satu tahun gue berstatus sebagai mahasiswa Arsitektur. Jurusan yang dulu tidak begitu dicita-citakan, tapi mungkin memang jalannya disini, akhirnya gue pun terdampar di kampus ini. Bersama 92 mahasiswa lain dengan misi yang sama menimba ilmu berjuang meraih kesuksesan. Satu tahun berlalu, banyak cerita yang tersimpan di dalamnya. Sejatinya, tidak ada yang benar-benar gampang, pun sukar dilalui. Beruntungnya, selalu ada saja celah untuk bisa menghirup napas segar di tengah padatnya aktivitas perkuliahan. Paling tidak akan ada tempat pelarian sebagai tumpuan melepas beban untuk sementara waktu. Baca: Kehidupan Tahun Pertama Seorang Mahasiswa Arsitektur Mungkin banyak yang bertanya-tanya…
-
Kejenuhan Yang Memuncak
Sudah kurang lebih empat bulan berada, tinggal di kota ini. Selama itu ada tekad tuk menempatkan diri menjadi mahasiswa seutuhnya. Konon katanya, mereka adalah mahasiswa yang penuh dengan hiruk-pikuk kesibukan kampus. Mahasiswa yang berangkat pagi, pulang dini hari, bahkan hingga menginap sekalipun. Definisi yang dulu diciptakan di pikiran, rupanya tidak semata bualan. Mereka, mahasiswa, memang benar adanya begitu. Kampus seakan menjadi dunia baru bagi mahasiswa untuk mengeksploitasi dirinya sembari merantau jauh, bagi yang merantau) tanpa takut sedetik pun ada waktu terbuang percuma. Tidak ada jeda.
-
Dua Kali Skak Mat
Cukup lama saya tidak lagi berceloteh disini. Ada kiranya satu setengah bulan yang lalu saya sedikit berbagi. Itupun hanya sebatas kutipan isi hati yang sangat mengganjal, jadi kudu diluapkan disini. Hehe Dan kali ini saya rasa adalah suatu momen yang pas untuk kembali bercerita. Setidaknya kegiatan sehari-hari saya yang tidak lagi semuanya bisa direkam lewat tulisan. Tempo hari tepatnya pada Senin (30/3), kembali saya mendapat direct hit dari seorang dosen berinisial Atun. (Iyaa ini sungguh inisial) Ia adalah seorang dosen dari kelas Dasar Desain Arsitektur 2 yang sudah berumur. Kurang lebih sudah mengabdikan dirinya sekita 40 tahun mengajar di Jurusan Arsitektur ITS. Jadi bisa dibayangkan sendiri kira-kira berapa umur beliau…














