Stories

Bangkit Dari Mati Suri

¡Hola! I have no idea why I started this post with a spanish greeting, tapi berhubung gue baru balik dari Spanyol. I’d like to leave a trace here! Haha.

Sudah lama rasanya gue gak konsisten menulis lagi. Ada beberapa tulisan yang gue keluarkan setahun terakhir, tapi jumlahnya bisa dihitung jari. Itu pun prosesnya bisa gue bilang sangat tidak natural. Banyak kafein yang gue habiskan, menulis hingga larut malam, sampai yang gue inget adalah gue bisa kembali menulis karena adanya trigger yang sangat luar biasa itu di bulan November lalu. Kalau gak ada itu semua gue bisa jamin gak bakal keluar itu tulisan.

Klimaks dari kemalasan gue menulis ini adalah pada matinya blog gue yang sudah gue urus belasan tahun lamanya. Jujur rasanya sedih harus melepas rumah yang sudah gue rawat sedari kecil. Tapi, matinya komunitas blogging hingga kemalasan gue menulis semakin memperkuat alasan gue untuk tidak meneruskan layanan domain dan hostingnya di tempat lama.

Oh ya, biaya pengurusan blog pribadi gue itu juga gak murah. Setahun gue harus mengeluarkan sekitar Rp.800.000,-. Dan makin bertambahnya tahun, biaya layanannya semakin naik. Walau bukan ini alasan utamanya, tapi ini juga yang makin memantapkan gue mempensiunkan blog pribadi gue. It’s sad to let it go. Sampai suatu ketika gue nemu promo hosting murah dari hostinger haha. Dan yup, akhirnya blog gue yang sempet mati suri beberapa bulan itu bisa hidup lagi sekarang walau dengan domain baru.

Belakangan gue banyak merenung. Kok bisa ya gue yang dulunya menulis setiap hari, bahkan sempat berprofesi sebagai jurnalis tapi sekarang mengalami kesulitan yang luar biasa dalam menulis? Gak cuman secara verbal, kemampuan oral gue pun rasa-rasanya tidak semantap dulu lagi.

I know that I’ve been through a lot lately. Tapi, bakal sampai kapan? Only God knows.

Setelah refleksi di beberapa kesempatan, selain alasan di atas, rupanya yang ngehalangin gue nulis itu bukan karena gue gabisa atau ga punya waktu, tapi banyak sekali faktornya.

  1. Gue hanya bisa menulis di lingkungan yang benar-benar ideal. Nah ini yang selalu gue harapkan. Di kepala gue sudah tertanam kalau gue gak akan bisa menulis setelah pulang kerja, otomatis waktu gue mengekerucut hanya di sabtu atau minggu atau hari libur lainnya. Selain itu, gue juga yakin kalau gue gak akan bisa menulis dari kamar sendiri. Tempat ideal yang gue bayangkan adalah di coffee shop dengan dinding kaca besar menghadap luar, ditemani minuman berkafein, dengan durasi operasional yang panjang. Padahal kriteria yang gue sebut tadi itu sangat susah ditemukan di tempat gue tinggal sekarang. LOL. I need to be more realistic.
  2. Ekspektasi gue terhadap hasil tulisan gue terlalu tinggi. Misal dengan memilih topik yang susah/tidak mainstream, bahasa yang kohesif, tanpa ada grammar error, dapat menghibur/relate ke pembaca, dan sejuta hal lainnya yang tidak akan pernah tercapai. Apalagi jika semua kriteria tadi harus ter-checklist semua, rasanya sangat mustahil. Gue harus ingat kalau menulis bukanlah profesi utama gue dan gak ada yang bisa sesempurna itu.
  3. Everyone is once a beginner. Gue pernah menargetkan untuk bisa menulis setiap hari. Hari pertama, oke gue bisa. Hari kedua, kok tulisan gue masih jelek ya? Dan tebak, yup, di hari ketiga, gue berhenti menulis. Siapa sih yang bisa jago dalam suatu hal sejak hari pertama? Haha. Gue masih bingung kenapa bisa-bisanya gue masih terjebak di siklus ini!

Oke, mulai sekarang, gue mau kembali ke rutinitas menulis! Gue akan mencoba tidak peduli dengan hasil tulisan gue, ataupun dampaknya terhadap pembaca. Karena gue tidak memiliki tanggung jawab apapun untuk menyenangkan/mengedukasi pembaca, bukan? Dan gue juga berjanji untuk tidak menggunakan bantuan AI barang sedikitpun dalam tulisan gue. I’ve uninstalled chatgpt on my gadgets like a week ago.

Banyak sekali alasan yang mewajibkan gue untuk kembali menyukai proses menulis regardless the output per se. Selain karena faktor kerjaan, gue yakin menulis juga akan membantu gue dalam memperbaiki cara gue berpikir, menemukan makna hidup, sampai mengambil setiap keputusan.

Oh ya kenapa namanya di bawah langit biru?

Entah kenapa, langit menjadi pengingat gue kalau tidak ada masalah yang lebih besar ketimbang langit yang menjadi naungan manusia hidup. Banyak juga lagu-lagu JKT48 yang secara eksplisit maupun tidak yang menyebut kalau langit biru suatu saat akan hadir tak peduli betapa kelabunya hari-hari yang kita sedang jalani.

Seperti sekarang. Gue bisa merasakan betapa langit biru di Valencia menyimpan banyak sekali harapan. Agar kita selalu percaya bahwa hari yang cerah pasti ada untuk orang-orang yang berusaha hidup setidaknya untuk hari esok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *