-
Kaleidoskop 2016
Perasaan baru kemarin gue capek-capek bikin kaleidoskop 2015 yang super panjang, sekarang udah tahun 2017 aja ya. Ga dipungkiri, dalam prosesnya ada banyak jatuh-bangun yang gue laluin. Yang sebenarnya ada banyak banget cerita yang pengen gue bagi dan ceritain disini tapi gabisa karena didera berbagai alasan. Makanya, kalau dihitung-hitung, ga banyak postingan gue tahun 2016 kemarin. Untuk menggantikannya, cukuplah kaleidoskop 2016 ini sebagai pengingat bahwa gue pernah menjadi bagian dari momen-momen berharga tersebut. Djakarta Reunion Awal tahun 2016 diisi oleh jalan-jalan dalam rangka reunion alumni Kampung Inggris. Seru banget karena bertepatan dengan baru libur semester. Jadi pikiran mumet dan badan yang capek karena ujian terbayarkan oleh jalan-jalan ini. Ditambah ketemu…
-
Refleksi Diri Dari Titik Nol Arsitektur ITS
Jika dipikir-pikir, terlampau berdosa rasanya meninggalkan tumpukan tugas yang seharusnya diselesaikan. Sedang yang sekarang bisa gue lakukan adalah menuliskan huruf demi huruf di kertas putih tak teraba ini. Tanpa dasar apa-apa, di samping sebuah upaya agar usaha yang gue lakukan dalam membangun blog ini tidak sia-sia. Singkatnya, bagaimana caranya dengan kesibukan seperti sekarang, produktivitas blogging gue tetap terjaga. Hehe. Masih tidak lepas dari beban perkuliahan di Jurusan Arsitektur, gue mencoba buat lebih banyak bersyukur aja sekarang. Kenapa? Karena beberapa waktu terakhir ini, seperti yang sudah pernah gue utarakan pula di postingan sebelumnya, gairah kuliah gue terus-terusan melempem skalanya. Kata orang-orang sih biasa. Mahasiswa fase pertengahan yang masih mencari jati dirinya…
-
Ngapain Jadi Arsitek (?)
Menginjak perkuliahan minggu ke-delapan, gue mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Padahal perkuliahan belum nyampe setengah jalan, tapi sekujur tubuh beserta nyawa gue serasa telah hilang dari raganya. Gampangnya, udah ngerasa capek aja. Usut punya usut, ternyata gue udah tiga bulan di Surabaya, tepatnya sejak awal Juli gue udah berkelimpungan di Kota Pahlawan yang panas nan sumpek ini untuk sebuah tanggung jawab. Bukan maksud hati gue ga niat kuliah, hanya saja, gue sedang mengalami apa itu yang disebut low-motivation. Akibatnya tugas-tugas yang telah berjajar rapi tak sepenuhnya gue selesaikan dengan maksimal. Buktinya, tugas presentasi Green Architecture hari ini, baru digarap pagi hari saat jam perkuliahan mata kuliah lain. Luar biasa…
-
Begini Penampakkan Tugas Besar Mahasiswa Arsitektur
Berbagai jenis seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebagian besar sudah terlaksana. Kini tinggal ujian mandiri di beberapa PTS yang memang sedang menyelenggarakan, tapi beberapa yang lain sudah terlaksana. Bagaimana hasilnya? Memuaskan? Bersyukurlah bag yang sudah lolos, dan jangan berkecil hati bagi yang masih harus bekerja keras untuk bisa masuk PTN. Sebab, ada banyak cara untuk mengejar mimpi. Orang sukses pun pasti mengalamu kegagalan. Work hard, pray hard, I bet you’ll make it! Teruntuk bagi yang sudah berhasil mewujudkan mimpinya menjadi mahasiswa jurusan arsitektur. Selamat! Satu langkah bagus guna menapaki karir sebagai arsitek. Itu pun kalau memang kalian punya tekad kuat dan mampu mempertahankannya hingga akhir. Hehe. Pokoknya jangan sampai…
-
Membaca Karakteristik Arsitektur Nusantara Serupa Boga
Banyak orang mengira bahwasanya boga yang jika di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti makanan; masakan; hidangan; santapan, sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan arsitektur. Terlebih, untuk memiliki peranan penting dalam perkembangan arsitektur di nusantara. Padahal, jika ditilik lebih jauh, boga memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan arsitektur nusantara yang berkembang di Indonesia. Seperti halnya tentang keberagaman jenis makanan yang ada di Indonesia. Terdapat ribuan atau bahkan mungkin ratusan ribu jenis makanan yang tersebar dari sabang sampai marauke yang akhirnya menjadi ciri khas daerah masing-masing. Dengan ragam modifikasi cita rasa masing-masing. Begitu pula dengan arsitektur. Gaya arsitektur tumbuh dan berkembang seiring proses hidup adat dan budaya setempat yang akhirnya…






