-
Berangkat Tanpa Tiket, Siapa Suruh Nekat!
Segala sesuatu yang dipaksakan sepertinya tidak selalu berujung bagus. Apalagi kalau pengambilan keputusan disertai dengan amarah, emosi, dan dengan waktu yang singkat. Inilah yang bisa gue rasakan sekarang. Layaknya memanen buah yang baru saja gue tanam bijinya, sayangnya buahnya tidaklah seperti yang diharapkan. Ceritanya, gue udah ngebet banget pengen balik ke surabaya. Sama keluarga juga udah bilang kalo gue bakal balik tanggal 11/7 kemarin. Kenapa sih cepet-cepet? Kalo diceritain bakal panjang jadinya. Setelah ini akan gue ceritain semuanya. Intinya sih Ada suatu hal yang harus gue urus di surabaya. Hari demi hari setelah lebaran gue baru sadar kalau KTP dan SIM gue mati berbarengan. Dua identitas wajib bagi seorang perantau.…
-
13 Wejangan Nenek Moyang, Fakta atau Mitos?
Terlahir dari keluarga yang sederhana dengan beban penghidupan yang banyak, ibu rupanya menyimpan banyak ‘wasiat’ untuk tidak melakukan hal-hal tertentu. Bukan wasiat juga sih, duh bingung gue ngejelasinnya gimana. Usut punya usut, ternyata kumpulan wasiat, wejangan, anjuran, serta larangan dari ibu ini juga berasal dari ibu dan neneknya. Jadi istilahnya turun temurun diwariskan ke anak cucu mereka agar senantiasa sejahtera. Jujur gue yang gak mudah percaya akan sesuatu ini ngerasa ada yang janggal. Sebenarnya bener gak sih kalo itu semua memberikan dampak positif? Atau paling gak, apa bener ia bener-bener ngaruh ke kehidupan kita? Secara sains, teknologi dan akal sehat kekinian memang aneh bin ajaib. Bisa dibilang juga, hanya mitos.…
-
Invasi Generasi Kekinian dan Generasi Wacana
Remaja (atau yang udah ngerasa ga remaja lagi) kelahiran tahun 90-an sering mengaku dan membenarkan bahwasanya generasi mereka lah yang paling baik. Dimana invasi teknologi tidak secepat sekarang yang kemudian mendorong pada pembentukan perilaku-perilaku yang dianggap (lagi-lagi) tidak baik. Dengan berbagai aktivitas yang dianggap tidak wajar pula seusianya. Hmm, bener gak? Gue termasuk anak (udah tua, nyadar! L ) kelahiran 90-an. Bisa secara singkat gue bilang stereotype yang beredar di masyarakat itu ada benernya juga. Tapi ga semuanya bisa dibenarkan tentunya. Hehe. Seolah-olah generasi inilah yang benar, sedangkan yang lain salah semua. Sebelum ini, gue yakin mungkin sebeum generasi gue ini lahir, orang-orang terdahulu di generasi 70-80-an pada bilang hal…
-
Kisah Kasih Libur Lebaran Sang Air Terjun, Seonggok Goa, dan Seupil Kali
Libur lebaran identik dengan jalan-jalan. Paling nggak itu yang lumrah di masyarakat Indonesia. Sampai biasanya bela-belain ambil cuti kerja biar libur lebarannya tambah lama. Di keluarga gue sendiri dari tahun ke tahun, momen kumpul komplit tujuh bersaudara ditambah pasukannya (anak-anak) hanya terjadi di hari lebaran pertama. Itu pun sering ga penuh satu hari. Kalau gak pagi hari (kalo nginep) trus pulang sorenya, atau nggak sebaliknya, paginya ga ada sorenya baru dateng. Begitulah terus. Maklum, punya anak banyak dan semuanya kerja sama orang ya begini risikonya. Baca Juga: Pesona LOKSADO, Tempat Liburan Menarik Anda! Kalau lebaran tahun lalu, keluarga gue, gak lengkap sih, punya waktu luang buat jalan-jalan ke luar kota.…
-
The Day, Edisi Spesial Lebaran dan Kelahiran
Orang-orang mengatakannya ini adalah hari kemenangan. Ia Ibaratnya puncak tertinggi dari sebuah proses pendekatan dan penyucian diri. Selama satu bulan penuh, umat muslim terus bergelut dengan rutinitas yang tak biasa. Sembari berharap pahala yang dijanjikan berlipat-lipat ganda banyaknya bisa didapat. Secara pribadi gue menganggapnya lebaran sebagai titik awal refleksi diri. Seekor ular yang ingin mengganti kulitnya maka ia harus berusaha keras selama berpuluh-puluh hari dengan cara tidak makan apapun. Bisa dibilang ia harus puasa untuk mendapatkan pribadi yang baru. Namun tetap dengan nama dan wajah yang sama. Begitulah manusia. Kita terlahir kembali setelah ramadhan. Demi satu tujuan, pribadi yang baru. Baca Juga: Tentang Hari Kelahiran Ga dipungkiri, gue bukanlah seorang muslim…














