-
Kuliah Gratis di Eropa dengan Beasiswa Erasmus
Novel terakhir yang berhasil gue baca sampai habis adalah “Penumpang Gelap” karya Alijullah Hasan Jusuf, seorang yang dulunya bukan siapa-siapa, tapi berhasil melanglang buana sampai ke benua eropa. Cerita nyata beliau ini berhasil dikemas dengan apik menjadi bacaan yang menarik untuk menggugah semangat para pengejar mimpi. Sama seperti halnya sewaktu dulu gue baru kenal dengan Ahmad Fuadi, sang penulis kondang yang sampai sekarang benar-benar menghipnotis gue untuk selalu membaca semua karyanya. Sama-sama perantau, namun berbeda jalan dan zona waktu. Manusia memang punya jalan hidup dan zona waktunya masing-masing bukan? Kendati masih berbicara seputaran mimpi, artikel gue sebelumnya di sini mungkin masih belum bisa menjawab beberapa pertanyaan temen-temen. Gimana sebenernya gue…
-
Rumitnya Berurusan dengan Birokrasi
Di awal-awal masa perkuliahan (sampe sekarang sih), gue sering dicap sebagai calon-calon budak birokrasi. Kata temen-temen, tanda-tandanya bisa terlihat jelas di pribadi gue. Selalu dekat dengan birokrasi kampus, jarang ikut demo, kut kegiatan kemahasiswaan yang orientasinya profit, atau yang paling jelas adalah target ketika lulus kuliah: Daftar CPNS. Gue juga ga menampik hal itu. Karena gue rasa, jadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukanlah sesuatu yang salah. Sesuai pribadi gue yang seringnya nyari aman haha. Di mana kebanyakan temen-temen seangkatan gue di kampus pada ogah jadi PNS. Terkekang, gaji dikit, jadi budak, kena sumpah-serapah masyarakat dan takut korupsi, sudah mewakili alasan yang sering kuping gue denger. Nah, inti postingan ini…
-
Pengalaman Tukar Mata Uang di Money Changer Surabaya
Beberapa waktu lalu, gue pernah cerita kalau hampir jadi ‘gelandangan’ di negara orang (luar negeri, red). Alasannya sederhana, karena cuman bawa uang cash dan itu pun rupiah. Haha. Udah agak keliatan begonya dan jelas-jelas kurang persiapan. Artikel lengkapnya bisa dibaca di sini. Sekitar empat hari yang lalu, gue memutuskan untuk berubah. Gak mau kejadian yang lalu terulang lagi, gue riset dah gimana caranya tukar uang rupiah ke mata uang asing. Dari hasil gue baca-baca, mayoritas gak nyaranin buat nukerin uang di bank. Kenapa? Biasanya kurs belinya buruk. Di Surabaya sendiri, sepertinya gak terlalu susah buat nyari authorized money changer. Hanya saja, gue nyari yang deket-deket kampus ITS, biar gak terlalu…
-
Punya Banyak Rekening Bank
Ngomongin dunia perbankan, cerita kali ini masih ada kaitannya dengan postingan sebelumnya tentang pencarian sponsorship. Rekening bank mutlak diperlukan baik untuk mempermudah penampungan dana dari donatur, maupun untuk mempermudah transaksi keuangan sebagai bekal ketika hendak ke luar negeri. Makanya perlu pinter-pinter nih milih bank yang sudah support aktivitas perbankan di negara tujuan. Sebagai anak dari salah satu pelosok desa di Kalimantan, sebelum merantau, gue udah bangga banget karena punya rekening plus kartu ATMnya Bank Rakyat Indonesia (BRI). Alasan kenapa BRI dipilih cukup rasional, karena cuma Bank BRI ini yang ada di tempat kelahiran gue itu. Bank paling merakyat lah istilahnya mah. Tiap 100 meter ada aja nemu ATM nya. Haha.…
-
Pengalaman Mencari Bantuan Dana Kegiatan Luar Negeri Mahasiswa
Di postingan sebelumnya telah dibahas tentang gimana sih cara dapetin kesempatan ke luar negeri. Nah, postingan ini adalah sambungan dari cerita gue kemarin. Karena sejujurnya, program ASTW 2017 ini gak sepenuhnya gratis. Peserta masih diharuskan untuk membeli tiket pesawat sendiri. Berbeda layaknya beasiswa bergengsi lain seperti LPDP, Erasmus Mundus, Fullbright, DAAD dll yang bersedia membiaya semua kebutuhan penerima beasiswanya (fully funded). Baca juga: Pengalaman Dapat Beasiswa Dataprint Kalaupun kalian gak dapet beasiswa penuh, tenang aja, seperti kata pribahasa bahwa ada banyak jalan menuju roma. Alias ada banyak cara supaya kita bisa berangkat walau hanya dapet beasiswa parsial ataupun tanpa beasiswa sekalipun semisal kegiatan volunteering AIESEC. Karena gak sedikit juga temen-temen…












