-
Kaleidoskop 2015
Tidak ada yang lebih berharga ketimbang waktu. Ia menjadi indikator segala hal. Menelusup ke setiap celah yang tak bisa dijangkau, menjadi berarti bagi mereka yang peduli, menjadi ancaman bagi mereka yang acuh. Celakanya, seringnya saya bermimpi tidak sesering saya menghargai waktu. Selama tepat 365 hari telah berlalu. Ada banyak hal yang sering luput untuk direnungkan. Dan selalu ada hal kecil yang menarik untuk dijadikan pelajaran. Namun lagi-lagi, manusia tempatnya lupa. Akan ada saja hal-hal yang terlupa dinikmati dan disyukuri. Berikut adalah kaleidoskop singkat tahun 2015. Memori yang tidak akan terlupa sampai kapanpun. Memori tentang saya, jatuh, bangun, perjuangan, kegagalan, kegembiraan dan kesedihannya. Jakarta Sebuah perjalanan panjang namun ditempuh dalam waktu…
-
Puncak Eksploitasi Diri
Sudah terlampau lama rasanya, jari-jari mungil ini tak lagi dapat menari di atas papan-papan hitam kecil pencetak huruf yang bersusun membentuk kata. Terlampau berbeda di kala hampir dua bulan lalu, saya berjanji tuk bisa rutin menuangkan beragam cerita, walau seringkali tak bermakna, tapi kini omongan tersebut hanyalah sekedar janji. Kehidupan nyata tidak sepenuhnya mendukung guna tetap bisa survive di dunia kedua ini. Kata orang, “Ngurusin hidup beneran aja beum beres, gimana mau hidup di dunia maya,”seperti itulah kira-kira. Ada banyak hal dan pekerjaan di dunia nyata yang memang harus saya kejar dan selesaikan. Sering ada niatan untuk sebentar meluangan waktu, tapi sering pula ada yang mengintervensi waktu tersebut. Ada saja.…
-
Pekerja Belakang Layar
Matahari sudah beranjak turun. Atmosfer yag tadinya tidak begitu bersahabat seketika mampu bertransformasi menjadi suasana yang dinanti. Tidak melulu mengenai suhu kota Surabaya yang terbilang tinggi itu, bukan. Walau tidak dipungkiri ada secuil faktor pemicunya adalah hal tersebut. Bisa dibilang yang menjadi pokok bahasan adalah sebuah pentas drama. Tempat dimana orang-orang berbaur, mencari kesenangan, apa saja, sesukanya. Menyaksikan keelokan makhluk tuhan bercakap dan bersandiwara di bawah sorotan spotlight yang sudah tak asing lagi. Raut wajah senang, sedih, letih, marah, kadang sesekali muncul. Pun, teriakan dan sorakan semangat tidak ketinggalan didengungkan. Lantas, apakah saya sedang menonton sebuah pentas drama? Tidak. Saya sama sekali tidak sedang menonton pertunjukan apapun. Deskripsi singkat di…
-
It Feels Like Home
Ga ngerti akhir-akhir ini siklus hidup gue sedikit banyak udah berubah. Ada kalanya suatu hari ada kesibukan, guenya sibuk banget sampe lupa sama hal-hal yang biasa gue lakuin, misalnya saja ngeblog. Atau, ada kalanya ketika gue gabut naujubillah. Yang gue lakuin biasanya hanya uring-uringan di kasur, dengerin musik, browsing, dan sebangsanya. Mau makan pun gue pake delivery. Ya Alla, maafkan hambamu yang suka ngehedon dan malas gerak ini Baca Juga: Fenomena GO-JEK di Kota Surabaya Itulah kenapa gue gak suka banget kalo lagi libur cuman di kosan doang. Kalau sekarang sih, ga sibuk, ga gabut juga. Sedang-sedang aja. Tapi tetep, gue yang saat di kampung dulu nyaris tiap hari bikin…
-
Konser JKT48 Lovely Show Tunjungan Plaza
Sesuai janji gue kemaren, gue pengen cerita soal konser JKT48 di Surabaya tadi malam. Konser ini disponsori oleh Puteri Lovely Mood Mustika Puteri. Walau bisa dibilang tiketnya murah, tapi nyatanya apa yang gue liat dan rasain tadi malam di luar ekspektasi banget. Gue pikir, at least mereka bisa perform lagu all member sama unit song seperti di konser-konser mereka yang biasanya yang ada 16 lagu. Kenyataannya, unit song ga ada sama sekali. Apalagi kalo ngarep lagu baru dan all member JKT48 kek dulu di Konser “Mengarungi Samudera Nusantara Mengetuk Pintu Hatimu” di Surabaya tahun lalu. Haha, ketinggian! Wong tiketnya cuman seharga 140ribu gaes. Jadi ya apa yang didapat fans juga…














