Tidak Ada Yang Berubah Dari Langit Malam Ini
Perlahan suhu di sini semakin hari menjadi semakin bersahabat, walau deburan anginnya cukup membekukan kulit dan mengundang bersin yang datangnya tanpa permisi.
Gue dengan percaya dirinya hanya menggunakan celana pendek yang dipadukan dengan denim berwarna biru dongker yang dibeli di Jepang kemarin.
Sekilas ada pesan masuk dari Ammar yang memberi sinyal kalau ia sudah berada di depan flat dan menunggu gue untuk segera turun.
—

Kami dipertemukan oleh sebuah momen di bulan Oktober tahun lalu yang mana sama-sama baru saja menyelesaikan sholat jumat di Masjid satu-satunya di kota ini. Dari jauh, raut dan perawakannnya sangat mirip dengan kebanyakan orang Indonesia, batin gue. Dugaan pertama, kalau bukan orang indonesia, pasti orang malaysia. Namun tebakan tadi meleset. Rupanya, ia adalah warga negara Singapura berdarah melayu.
Bisa dibilang, sangat jarang sekali gue ketemu orang-orang yang memiliki paras serupa di sini. Masjid di sini, in the UK, overall lebih banyak didominasi oleh orang-orang timur tengah, india, pakistan, dan beberapa negara lainnya di Afrika.
Waktu memang terasa sangat cepat berlalu. Hari ini, tak terasa, dari pertemuan yang tak disengaja itu, cerita kami berdua telah mencapai halaman terakhirnya di kota ini.
—
Kami berdua berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi oleh pepohonan yang telah menjelma hijau sepenuhnya. Dari kejauhan tampak kilauan matahari yang sesekali menyeruak dari celah dedaunannya yang rindang. Inilah yang telah gue idam-idamkan sejak beberapa bulan yang lalu. Jujur saja, gue sudah cukup muak hidup berdampingan dengan awan abu-abu, hujan es batu, hingga suhu satu digit hampir setiap harinya dengan kondisi mental yang juga tidak stabil setiap harinya.
Jalanan menuju Bath Skyline ini tak lepas dari tanjakan yang curam. Di jalur pejalan kaki, tak tampak orang lain selain kami. Di jalur kendaraan yang berada di sebelah kanan, sesekali bus kota lewat yang juga tak banyak diisi penumpang.
Kemana perginya orang-orang? Entahlah.
Kami sesekali bertukar cerita. Tentang keseharianku di kantor, tentang masa depannya. Ada pula momen di mana kita sepakat untuk diam dan hanya fokus pada langkah kaki bersama suara-suara alam yang terasa saling bersahutan. Ada tupai yang merangkak naik ke atas pohon, ada kelinci yang sedang bermain petak umpet bersama kelinci lainnya, suara daun yang saling bergesekan tertiup angin, sampai suara napas kami berdua yang lumayan terengah di jalanan menanjak ini.
Jalan yang tadinya cukup luas untuk dilalui dua buah kendaraan saling berpapasan, kini menyempit menjadi satu jalur saja dengan jalanan setapak di sisi kirinya.
Semakin dekat dengan tujuan, jalanan ini kian menyempit hingga tak ada lagi struktur beton yang muncul di pandangan. Yang ada hanyalah hamparan padang rumput hijau yang luasnya hampir tak bertepi yang dibelah oleh jalanan setapak berukuran tak lebih dari setengah meter.
Tak ada banyak tanda kehidupan di sini selain kami berdua, rumput, dan dua pasang manusia yang kiranya juga sedang menghabiskan waktu sore mereka.
Di satu titik, terdapat sepasang lansia yang sambil mengobrol sambil berjalan bergandengan tangan di sisi atas bukit. Titik lainnya diisi oleh sepasang remaja yang berbaring di rerumputan sambil memandangi langit.
Gue berasumsi, kesamaan dari keduanya adalah mereka seperti sudah cukup lama mengenal satu sama lain. Sedangkan gue dan ammar, hanya dua manusia yang kebetulan berbicara bahasa dengan rumpun bahasa yang sama di kota yang minim populasi melayu-nya ini.
Semakin kami menanjak naik, semakin kencang tiup anginnya. Udara dinginnya pun tak terelakan perlahan menusuk kulit dan bersemayam di tulang-tulang kaki. Maklum, celana pendek tadi memang tidak sepenuhnya menutupi kaki dari lutut ke bawah.
Dari panorama alam yang menakjubkan di hadapan kami ini, yang paling membuat gue terpesona adalah bagaimana langit bisa memancarkan cahaya dan warna yang jarang kulihat sebelumnya.
Selain dominasi warna biru, ia juga memancarkan sinar jingga dan merah yang membuat langit senja kota ini semakin menawan. Dari kejauhan, perpaduan langit dengan arsitektur klasik yang tersusun rapi ini membuat semuanya terlihat sempurna.
Di antara keheningan kami berdua, gue bisa merasakan betapa semesta diciptakan sedemikian rupa agar manusia sadar betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.
Di sini juga gue bisa merasakan ketenangan luar biasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Hingga suara-suara kecil yang sering gue abaikan pun bisa terdengar jelas di sini. Gue bisa merasakan suara rumput yang saling bergesekan. Suara decitan serangga yang bebas berkeliaran di alam. Sampai suara detak jantung yang serasa diperlambat oleh semesta.
Gue juga bisa merasakan betapa lamanya gue telah meninggalkan diri sendiri dan tersesat bersama masa lalu yang tak ku tahu jalan keluarnya.
Bisa dibilang gue berada di titik terendah hidup tak berselang lama setelah kepindahanku ke kota ini. Ammar pun rupanya memiliki masalah yang hampir serupa. Ada hari di mana hidup tidak lagi menyenangkan untuk tetap dijalani. Langit tak lagi memiliki warna. Kehangatan tak lagi terasa. Hingga makanan pun tak lagi menggugah selera. Semuanya terasa hampa tak bermakna.
—

Ingatan gue masih belum beranjak dari langit malam itu.
Rasanya tidak banyak yang berubah dari apa yang selama ini biasa gue lihat. Bahkan sejak gue belum benar-benar mengenal beratnya menjalani hidup sebagai orang dewasa. Hari itu mungkin terasa berbeda, tetapi langitnya tetap langit yang sama. Langit yang pernah gue pandangi bertahun-tahun lalu. Hanya saja, kali ini gue melihatnya dari tempat yang berbeda.
Mungkin memang begitu cara hidup bekerja. Kita perlahan bertumbuh, berpindah, dan belajar dari setiap hal yang datang dan pergi. Pemandangannya boleh sama, tetapi kita tidak pernah benar-benar menjadi orang yang sama ketika kembali melihatnya.
Mungkin kami masih membawa sebagian masa lalu di dalam diri kami. Masih ada hal-hal yang belum selesai, hingga kekecewaan dan penyesalan yang belum sepenuhnya lepas. Tapi kami percaya, sejauh apa pun langkah membawa pergi, selalu ada masa depan yang tak bertepi yang kan menghampiri.

—
Gue mengenal Ammar sebagai sosok yang baik. Kalau bisa dihitung, mungkin pertemuan kami justru lebih sering terjadi ketika sedang beribadah. Gue merasa seperti menemukan seorang adik laki-laki dari keluarga yang berbeda.
Ada banyak hal yang gue pelajari darinya, tentang ketulusan, tentang menjadi baik, dan tentang bagaimana seseorang bisa meninggalkan kesan tanpa perlu melakukan banyak hal.
Gue percaya, suatu hari nanti Ammar akan tumbuh menjadi sosok yang besar. Bukan hanya dalam pencapaian, tetapi juga dalam cara ia membawa kebaikan ke mana pun ia pergi.
Jaga diri baik-baik, Ammar.
See you when I see you!



